MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN KEGELISAHAN

DISUSUN OLEH :
ALYA APRILIYANTI
10519606
1PA04
UNIVERSITAS
GUNADARMA
FAKULTAS
PSIKOLOGI
JURUSAN
PSIKOLOGI
2019
Kata
pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmatNYA sehingga makalah yang berjudul “Manusia Dan Keadilan” ini
dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa saya
juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.Terima
Kasih.
Depok, 27
November 2019
Alya Apriliyanti
10519606
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hampir
semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat
biologis mereka. Tetapi tujuan itu sering sulit atau bahkan kemungkinan kecil
untuk dicapai. Kegelisahan disini diartikan suatu kondisi dimana orang
menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi rintangan tersebut.
Kegelisahan dapat diketahui melalui gejala tingkah laku atau gerak-gerik
seseorang dalam situasi tertentu. Timbulnya rasa gelisah didalam diri manusia
dapat disebabkan karena ada rasa takut yang berlebihan karena takut kehilangan
atas hak nya serta penyebab lain nya. Gelisah tergolong penyakit batin,
penyakit ini dapat menyerang siapa saja, dari golongan apa, dan bangsa apapun.
Kegelisahan
yang tak terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan di mana
ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya. Kegelisahan dan kompleksitas
manusia Motif-motif perbuatan yang mendorong dan mengarahkan tingkah laku tidak
timbul dan dapat mencapai pemuasan denga cara yang sederhana. Kegelisahan
merupakan rasa kekhawatiran yang ada dalam diri manusia, rasa ini disebabkan
karena kurang tentramnya jiwa seseorang tersebut, atau rasa tidak tenang (tidak
sabar) yangmenyebabkan rasa gelisah ini mincul. Pada hakekatnya sebab-sebab
orang gelisah disebabkan karena rasa takut pada hak-haknya. Namun terlepas dari
itu usaha untuk mengatasi kegelisahan sangatlah perlu. Yaitu dengan dimulai
dari diri kita sendiri, dengan bersikap tenang dan tidak terbawa pengaruh emosi
dalam jiwa kita. Karena jiwa kita sendirilah yang dapat kita kontrol untuk
terlepas dari rasa kegelisahan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian kegelisahan ?
2.
Apa saja penyebab kegelisahan dan
bagaimana usaha dalam mengatasi kegelisahan ?
3.
Apakah yang dimaksud dengan keterasingan
?
4.
Apakah yang dimaksud dengan kesepian ?
5.
Apakah yang dimaksud dengan
ketidakpastian dan bagaimana usaha dalam mengatasinya ?
1.3 Tujuan
Makalah
yang disusun bertujuan untuk memenuhi tugas individu mata kuliah ilmu budaya
dasar. Selain itu, makalah ini juga disusun untuk menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan tentang manusia dan kegelisahan bagi penulis dan pembaca.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kegelisahan
Kegelisahan berasal
dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa tidak tentram di hati atau merasa
selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi (menanti),
cemas dan sebagainya Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau
takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan
bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut. Kegelisahan
hanya dapat diketahui dari sikap,wajah seseorang yang seperti menunjukan
kekhawatiran,dan gerak geriknya contohnya adalah seperti berjalan mundar mandir
sambil menundukan kepalanya dengan wajah murung dan mengepal ngepal kedua
tangannya dan tentunya malas bicara dan hanya diam saja.
Kegelisahan diartikan
suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi
rintangan tersebut. Pada hakekatnya kegelisahan menunjuk pada motivasi yang
terhalang dan dalam keadaan tak terpuaskan. Kegelisahan yang sifatnya abstrak disebut
kegelisahan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui apa kegelisahannya,
seolah-olah tanpa sebab. Ini berbeda dengan kegelisahan "terapan"
yang terjadi dalam peristiwa kehidupan sehari-hari yang terjadi dengan adanya
sebab tertentu.
2.2 Sebab-Sebab
Orang Gelisah
1.
Kompleksitas Manusia
Bertumpuknya
pola-pola motif kehidupan manusia mengajarkan kepada manusia bahwa tidak semua
motif dapat dipuaskan tetapi ada juga yang memerlukan kesabaran untuk
menundanya, dan bahkan bila perlu motif itu ditinggalkan. Bila tidak akan
menghasilkan kegelisahan.
2.
Kondisi Lingkungan
Pemuasan
yang menyeluruh pada suatu motif juga hampir tidak mungkin sebab tujuan motif
itu hanya bisa dicapai menyeluruh jika sesuai dengan apa yang ada di
lingkungan.
3.
Ketidakmampuan Penyesuaian Bertindak
Pencapaian
kebutuhan tergantung pada keefektifan dalam penyesuaian, hasil hanya didapat
jika seseorang mempunyai kebiasaan yang sesuai untuk memanipulasi lingkungan.
Manusia hanya berhasil jika ia mempergunakan reorganisasi pengalamannya dalam
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
4.
Keadaan Fisik
Keadaan
fisik merupakan faktor utama sebagai kegelisahan manusia. Sejak bayi lahir ia
selalu menghadapi kenyataan bahwa ia selalu terhalang keinginannya karena
sebab-sebab fisik. Kegelisahan dan kekhawatiran yang ditimbulkan oleh
sebab-sebab fisik tentu saja harus menghinggapi mereka yang mempunyai cacat
fisik. Pada masa tua, keterbatasan fisik menjadi penyebab utama dari
kegelisahan manusia lagi.
5.
Lingkungan Sosial
Sumber
kegelisahan manusia ikut berubah sebagaimana pembangunan teknologi dan ilmu
manusia itu sendiri. Manusia satu dengan lainnya selalu tergantung satu sama
lainnya, sehingga jika orang satu dengan yang lainnya tidak dapat saling
memberi seperti yang diharapkan maka hal ini akan menjadi sumber kegelisahan.
6.
Motif yang Bertentangan
Sumber
kegelisahan yang paling rumit ialah pertentangan antara dua motif atau lebih.
Hakikat dari konflik antar motif ini adalah bahwa seorang individu tak dapat
mencapai tujuannya tanpa harus mengorbankan motif lainnya yang ia miliki.
Kadang-kadang konflik ini muncul karena keterbatasan jumlah keinginan yang
dapat dicapai pada suatu saat, sebab motif- motif dapat muncul secara bersamaan.
Konflik yang lebih sulit lagi ialah jika pemuasan terhadap salah satu motif
malah menguatkan motif yang bertentangan.
2.3 Usaha-Usaha
Mengatasi Kegelisahan
Mengatasi kegelisahan
ini pertama-tama harus mulai
dari diri kna scndiri, yaitu
kita harus bersikap tenang.
Dengan sikap tenang
kita dapat berpikir
tenang, sehingga segala kesulitan dapat
kita atasi. Senantiasa mengingat Tuhan agar perasaan menjadi tenang,
karena Tuhan akan membantu hambanya.
2.4 Keterasingan
Keterasingan berasal
dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti
sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari
pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi keterasingan berarti
hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil, atau
terpisah dari yang lain. Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup
manusia. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan,
sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.
Penyebab orang berada
dalam keterasingan itu ialah perilakunya yang tidak dapat diterima
atau tidak dapat dibenarkan oleh
masyarakat, atau kekurangan yang ada pada diri seseorang,
sehingga ia tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam
masyarakat.
2.5 Kesepian
Kesepian berasal dari
kata sepi, artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang atau kendaraan,
tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tak ada apa-apa, dan sebagainya.
Kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi. Frustrasi pun dapat mengakibatkan
kesepian, yang bersangkutan tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan
sepi, tidak suka bergaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri. Hidup
dalam keterasingan yang akibatnya kesepian pada hakikatnya disebabkan karena
orang itu juga takut kehilangan hak- haknya, kecuali Pangeran Sidharta, yang
sengaja mencari kebenaran hidup
2.6 Ketidakpastian
Ketidakpastian berasal
dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya) atau mendua, atau apa
yang dipikirkan tidak searah, kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua adalah
akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi. Ketidakkonsentrasian itu disebabkan
oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau. Penyebab terjadinya
ketidakpastian adalah obsesi, phobia, kompulsi, hysteria, delusi, halusinasi
dan keadaan emosi.
2.7 Usaha-Usaha
Mengatasi Ketidakpastian
Untuk dapat
menyembuhkan keadaan ini tergantung kepada mental si penderita. Andai kata
penyebabnya sudah diketahui, kemungkinan juga tidak dapat sembuh. Bila hal
ituterjadi, maka jalan yang paling baik untuk penderita ialah diajak atau pergi
sendiri ke psikolog. Bila penyebabnya itu jelas, misalnya rindu, obatnya mudah,
yaitu dipertemukan dengan orang yang dirindukan. Phobia atau jenis takut bisa
dilatih dari sedikit, sehingga tidak takut lagi.
BAB III PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Permasalahan hidup manusia merupakan cikal bakal munculnya kegelisahan
dalam diri manusia . Kegelisahan dalam diri manusia merupakan suatu beban
tersendiri yang dipikul oleh pikiran dan hati manusia . Terkadang kegelisahan
membuat seseorang tidak dapat mengendalikan diri dan hanyut dalam kekalutan
dirinya . Tidak jarang dampak dari kegelisahan manusia tersebut merupakan emosi
dan amarah yang berdampak kepada orang sekitar dan menimbulkan masalah masalah
baru .
Kegelisahan baiknya disikapi dengan
bijaksana dengan berbagai cara yang telah dipaparkan didalam bab isi makalah
ini. Kegelisahan yang disikapi dengan bijaksana juga dapat menimbulkan sikap
dewasa pada diri seorang manusia karena ia sudah mulai dapat mengenal dan lama
kelamaan dapat mengendalikan dirinya sendiri.
1.2 Saran
Dengan
diselesaikannya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan pembaca. Selanjutnya penulis juga mengharapkan kritik dan saran guna
peningkatan kualitas dalam penulisan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Widyosiswoyo
Supartono, 2004. Ilmu Budaya Dasar. Ghalia
Indonesia : Bogor
Prasetya
Joko Tri, 2004. Ilmu Budaya Dasar
(lengkap). PT Rineka Cipta : Jakarta
Sulaeman
Munandar, 1998. Ilmu Budaya Dasar. PT
Refika Aditama : Bandung
Mustopo
M. Habib, 2006. Manusia dan Budaya.
Kumpulan essay. Ilmu Budaya Dasar. Usaha Nasional : Surabaya
No comments:
Post a Comment